Thursday, December 12, 2013
TENTANG FOTOGRAFI
Fotografi:
Fotografi ( Photography ) berasal dari kata Foto ( Cahaya ) dan Graphia (
menulis / menggambar ), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah
suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa
cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam
memperoleh gambar.
Kamera SLR:
Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik ( viewfinder ) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.
Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik ( viewfinder ) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.
Seperti dibahas terdahulu, fotgrafi berkaitan erat dengan
cahaya, maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image
sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera
konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam
kamera, yakni Shutter Speed ( Kecepatan Rana ) dan Aperture ( Diafragma ).
Shutter Speed:
Shutter
speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera
sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada
shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya
saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter
speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik.
Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter
speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini
sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram,
bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera
akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi
buram / blur.
Foto dengan shutter speed cepat
Foto dengan shutter speed lambat
Aperture
Aperture
atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila
diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang
dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang
masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf F dan dengan
satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst…
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst…
Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa ( f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0 ).
Gambar Aperture pada lensa
Jadi, korelasi antara shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa, maka shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa, maka shutter speed akan semakin melambat.
Jadi, korelasi antara shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa, maka shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa, maka shutter speed akan semakin melambat.
Pada kamera Nikon D70 terdapat 11 mode pemotretan:
M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
A= Aperture Priority
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
S= Shutter Priority
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
P= Program
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Auto
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan pada malam hari.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan pada malam hari.
Night Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto portrait malam hari atau cahaya redup.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto portrait malam hari atau cahaya redup.
Pada kamera Canon 350D terdapat 12 mode pemotretan:
Pada
mode ini, pengaturan fokus foreground dan background diatur secara
otomatis oleh kamera sehingga lebih memungkinkan untuk menghasilkan foto
yang tajam baik pada foreground maupun background.
M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
Av= Aperture Value Priority
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
Tv= Time Value Priority
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
P= Program
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Auto
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Scene
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pada malam hari.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pada malam hari.
No Flash
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun apabila pada mode auto lainnya built in flash akan otomatis pop up apabila cahaya dirasa kurang, pada mode ini built in flash tidak akan menyala sama sekali, sehingga shutter speed dan aperture akan lebih berperan untuk mengimbangi kebutuhan cahaya.
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun apabila pada mode auto lainnya built in flash akan otomatis pop up apabila cahaya dirasa kurang, pada mode ini built in flash tidak akan menyala sama sekali, sehingga shutter speed dan aperture akan lebih berperan untuk mengimbangi kebutuhan cahaya.
Setiap
kamera memiliki light meter yang berfungsi mendeteksi intensitas
cahaya. Sebelum menekan tombol shutter, apabila menggunakan kamera pada
mode manual ada baiknya memperhatikan exposure meter terlebih dahulu.
Berikut gambar exposure indicator:
Setelah
memahami DOF yang berkaitan dengan aperture, kali ini akan dijelaskan
tentang freeze, dimana sangat berkaitan erat dengan shutter speed. Foto
freeze bertujuan untuk mengabadikan suatu moment dengan gerakan cepat
sehingga dapat tertangkap oleh kamera sebagai gambar diam, seperti foto
tetesan air, ledakan, atau foto ketika orang sedang melompat dan lain
sebagainya. Yang paling utama dalam mendapatkan foto freeze adalah
mengatur shutter speed secepat mungkin ( misal 1/500 detik, 1/1000
detik, hingga 1/8000 detik ). Karena tuntutan shutter speed yang cepat,
maka tentunya cahaya yang dibutuhkan sangat banyak, maka dari itu
biasanya foto freeze amatir lebih banyak dilakukan di ruang terbuka pada
siang hari dimana cahaya matahari bersinar terang. Bukan tidak mungkin
untuk memperoleh foto freeze pada malam hari atau cahaya yang minim,
namun peralatan pendukung mutlak diperlukan seperti flash atau bahkan
lampu studio dengan kecepatan singkronisasi yang tinggi pula.
1. Mengapa foto yang dihasilkan gelap?
Jawab: Karena cahaya yang ada kurang memadai, sehingga foto menjadi under exposure. Coba untuk naikan ISO agar shutter speed dapat menjadi lebih cepat.
Jawab: Karena cahaya yang ada kurang memadai, sehingga foto menjadi under exposure. Coba untuk naikan ISO agar shutter speed dapat menjadi lebih cepat.
2. Mengapa masih tampak pergerakan / gambar yang dihasilkan buram?
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed kurang cepat mengimbangi kecepatan objek, namun apabila buram bisa jadi juga karena fokus lensa tidak tepat jatuh pada objek
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed kurang cepat mengimbangi kecepatan objek, namun apabila buram bisa jadi juga karena fokus lensa tidak tepat jatuh pada objek
Bertentangan
dengan foto freeze, foto movement bertujuan memperlihatkan pergerakan
objek dengan shutter speed yang rendah, sehingga pergerakan objek dapat
tampak pada hasil foto. Shutter speed yang digunakan cenderung rendah
agar pergerakan objek dapat terekam ( misal 1/5 detik, 1 detik, dst ),
namun yang patut diperhatikan adalah kamera harus tetap dalam posisi
statis agar background daripada objek tetap fokus walaupun shutter speed
lambat.
1. Mengapa foto menjadi putih dan gambar tidak jelas?
Jawab: Cahaya pada saat pengambilan foto surplus, sehingga menjadi over exposure. Untuk mensiasatinya, perkecil bukaan lensa dengan menaikan aperture.
Jawab: Cahaya pada saat pengambilan foto surplus, sehingga menjadi over exposure. Untuk mensiasatinya, perkecil bukaan lensa dengan menaikan aperture.
2. Mengapa foto menjadi buram semua?
Jawab: Karena kamera mengalami pergerakan pada saat shutter terbuka, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi blur. Untuk menghindari hasil yang blur, gunakan tripod atau letakan kamera pada tempat yang statis dan stabil.
Jawab: Karena kamera mengalami pergerakan pada saat shutter terbuka, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi blur. Untuk menghindari hasil yang blur, gunakan tripod atau letakan kamera pada tempat yang statis dan stabil.
Mirip
dengan metode foto movement, namun dalam foto panning gerakan objek
lebih ditampilkan melalui background yang bergerak. Prinsip dasar foto
panning sama dengan foto movement, hanya saja pada saat pemotretan,
kamera ikut bergerak mengimbangi gerakan objek, sehingga objek tetap
fokus namun background yang dihasilkan bergerak
Cara foto panning:
Bidik sasaran bergerak ( pada umumnya mobil ), tekan tombol shutter 1/2 agar fokus mengunci objek, gerakan kamera mengikuti objek seketat mungkin agar objek tetap fokus, sekiranya dirasa gerakan kamera sudah mengimbangi gerakan objek, tekan tombol shutter penuh dengan kamera yang tetap bergerak mengikuti objek.
Bidik sasaran bergerak ( pada umumnya mobil ), tekan tombol shutter 1/2 agar fokus mengunci objek, gerakan kamera mengikuti objek seketat mungkin agar objek tetap fokus, sekiranya dirasa gerakan kamera sudah mengimbangi gerakan objek, tekan tombol shutter penuh dengan kamera yang tetap bergerak mengikuti objek.
1. Mengapa foto buram semua?
Jawab: Bisa jadi karena gerakan kamera tidak sesuai dengan gerakan objek. Cobalah percepat shutter speed dan coba untuk mengikuti gerakan objek seketat mungkin.
Jawab: Bisa jadi karena gerakan kamera tidak sesuai dengan gerakan objek. Cobalah percepat shutter speed dan coba untuk mengikuti gerakan objek seketat mungkin.
2. Mengapa foto fokus semua?
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed terlalu cepat dan atau kamera kurang digerakan pada saat pemotretan.
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed terlalu cepat dan atau kamera kurang digerakan pada saat pemotretan.
Foto
bulb dapat diperoleh melalui mode manual dengan mengatur shutter speed
pada setting paling lambat ( BULB ), dimana shutter akan terus terbuka
selama tombol ditekan dan akan menutup kembali pada saat tombol dilepas.
Yang patut diperhatikan pada foto bulb adalah posisi kamera yang mutlak
harus statis, maka gunakanlah tripod untuk menghasilkan foto bulb.
Contoh foto bulb pada lalu lintas kota malam hari:
Contoh foto bulb pada lalu lintas kota malam hari:
by : http://99photographybali.blogspot.com
Menemukan prefensi fotografi
Mulai saat ini blog 99 Photogrphy akan lebih berwarna dengan hadirnya tulisan-tulisan dari orang yang tidak asing buat kita semua, Mas Tantyo Bangun. Beliau yang pernah menjabat sebagai Editor In Chief Majalah National Geographic Indonesia akan berbagi tentang dunia fotografi berdasarkan pengalaman beliau selama ini.
Berikut tulisan pertama dari mas Tantyo tentang menemukan preferensi fotografi. Selamat menikmati
Di
tengah kehadiran teknologi informasi digital, kita menghadapi “content
explosion”, mulai dari teks, foto, audio hingga video membanjiri
relung-relung kehidupan kita. Sebagai gambaran, di situs berbagi
fotografi online Flickr, tiap hari ada foto membanjiri situs itu (ada
yang menyebut 4.000 foto/ menit hingga 3 juta-5 juta foto/ hari). Belum
lagi di Facebook dan situs-situs lain. Di Youtube, tiap menit rata-rata
24 jam video yang diupload (jika frame rate video secara umum 30 frame/
detik itu sama dengan 3,7 milyar lebih still frame/ hari di upload).
Tentu
ada yang bependapat, apa pengaruhnya bagi kita untuk belajar fotografi?
Banyak sekali. Yang terutama, dengan begitu mudahnya orang memotret,
terkadang justru membuat mereka “tersesat secara visual”. Para peminat
fotografi tidak menemukan jalan setapak yang jelas menuntun ke arah
pembelajaran yang benar tentang fotografi.
Jika
kita mengamati forum-forum berbagi pendapat, perdebatan yang muncul
seolah menunjukkan semua pendapat benar asal disertai dengan tehnik
argumen yang baik. Demikian pula mengenai gambar yang baik. Terkadang
pendapat yang satu menunjukkan genre foto ini baik, lalu ada pula yang
menyebutkan foto seperti itu yang sedang tren.
Pada
akhirnya, kita harus kembali pada pegangan bahwa fotografi adalah
selera pribadi. Jika kita ingin memulai proses pembelajaran, langkah
pertama adalah mengetahui selera dan kesukaan kita akan fotografi.
Bagian mana, bentuk seperti apa, mood seperti apa, hingga
subyek seperti apa yang menarik kita. Bagi hal-hal seperti itulah layak
kita curahkan perhatian untuk mendalaminya.
Banyak
yang bertanya, mengapa tidak berbicara tehnik memotret dahulu? Buat
saya, di era digital ini tehnik menjadi nomer dua. Nomer satu adalah
visi. Tehnologi fotografi digital di masa kini sudah sangat memanjakan
penggunanya. Ibaratnya, memotret dengan mata terpejam pun pasti jadi
. Kurva pembelajarannya menjadi berbeda sama sekali di banding era fotografi analog.
Saya
beruntung masih mengalami proses memotret secara profesional dengan
media film negatif dan transparansi (slides), sehingga merasa sangat
dimudahkan dengan teknologi fotografi digital masa kini. Bagi mereka
yang tidak mengalami itu, tentu tidak terlalu mensyukurinya. Tapi
percayalah, dengan perkembangan teknologi, tehnik foto bisa dipelajari
sambil jalan.
Kembali
ke visi pribadi, bagaimana menemukannya? Salah satu cara yang paling
sering saya sarankan ke beberapa rekan adalah mempertajamnya dengan
menggunakan preferensi visual. Kumpulkan foto-foto favorit, bisa dari
mana saja: majalah, koran, flickr, internet secara umum. Jangan terlalu
banyak, dan jangan terlalu sedikit. Sekitar 50 hingga 100 foto mungkin
ideal.
Kumpulkan
foto-foto yang benar-benar disukai. Setelah itu bentangkan dalam
tampilan thumbnails yang agak besar (bisa menggunakan Picasa atau yang sejenisnya) dan review secara keseluruhan. Pelajari foto-foto itu dan temukan benang merahnya. Apakah mempunyai kesamaan subyek? Apakah karena kecemerlangan warnanya? Sudut pengambilan? Atau karena pesan atau makna dari foto itu sendiri.
Anda
sendiri yang harus mencari dan menemukan. Bagaimana cara untuk
melakukan seleksi, penajaman dan bisa menangkap benang merah preferensi
fotografi atau visual? Kita akan bahas dalam posting berikutnya.
Catatan: artikel ini juga bisa ditemukan di blog pribadi Tantyo Bangun:http://tantyobangun.tumblr.comby : http://99photographybali.blogspot.com/search/label/TENTANG%20FOTOGRAFI
10 Tips Memotret Sunset Dan Sunrise
Memotret
sunset dan sunrise adalah salah satu dari sekian banyak ”foto wajib“
yang harus dilakukan oleh seorang penggemar fotografi. Kalau anda sudah
pernah mencoba memotret sunset atau sunrise tetapi kurang puas dengan
hasilnya, silahkan coba tips berikut ini supaya foto sunset dan sunrise
bertambah baik:
Lakukan Persiapan Sebaik-baiknya
Sunset
dan sunrise hanya berlangsung sekitar setengah jam. Untuk itu kita
harus melakukan persiapan matang sebelumnya. Pastikan datang lebih awal
dan pastikan anda sudah tahu dari titik sebelah mana anda akan
memotret. Agar komposisi akhir foto keren, lakukan observasi tempat
sebelumnya. Untuk memastikan anda tidak terlambat , usahakan anda tahu
jam berapa sunset atau sunrise akan tiba (karena jam sunset / sunrise
berbeda dari lokasi ke lokasi). Juga pastikan peralatan sudah siap:
kamera – lensa – tripod (jika ada) serta aksesoris lainnya sudah
terpasang & disetel dengan baik, sehingga saatnya tiba kita bisa
sibuk memotret bukan sibuk mengeset alat. Baca lagi tips tentang komposisi.
Jangan Kecewa Karena Mendung
Karena
anda sudah bersusah – payah mendatangi lokasi yang jauh dan sulit,
jangan kecewa kalau mendadak mendung tiba. Maksimalkan kreatifitas anda
saat langit tertutup mendung. Langit mendung bukan halangan menghasilkan
foto indah saat sunrise dan sunset. Cari tahu obyek apa saja yang
menarik untuk difoto saat mendung atau hujan.
Jangan Terpaku Pada Wide Angle
Memotret
sunset dan sunrise menggunakan lensa sudut lebar (wide angle) merupakan
hal yang biasa, namun jangan terpaku hanya menggunakan lensa tersebut
(kalau anda memang punya pilihan lain). Manfaatkan rentang lensa yang
lain, misalnya lensa tele.
Maksimalkan Siluet
Hal
yang menambah daya tarik foto sunset dan sunrise adalah siluet. Siluet
memberi kesan yang kuat serta memberi cerita dalam foto anda, apalagi
jika anda memotret sunset atau sunrise di lokasi yang memiliki identitas
kuat. Baca juga tips memotret siluet.
Bawalah Tripod
Jika anda ingin memanfaatkan teknik long shutter – membuat HDR atau panorama: tripod wajib dibawa
Gunakan Manual Focus
Karena
sunset dan sunrise memiliki kualitas cahaya yang lumayan ekstrim,
kadang kamera akan kesulitan menemukan fokus jika anda menggunakan mode
auto focus, segera ganti ke mode manual sehingga kita tidak
menyia-nyiakan waktu menunggu kamera menemukan titik fokus.
Gunakan Preset White Balance Cloudy
Ubahlah
setting white balance anda ke cloudy (biasanya dilambangkan dengan ikon
mendung). Setting white balance ini akan membuat foto sunset atau
sunrise lebih hangat dan warnanya lebih “menggigit”, dibandingkan kalau
menggunakan setting white balance auto. Atau jika anda suka
bereksperimen, cobalah setting white balance lainnya. Apa itu white balance?
Gunakan Spot Metering (SLR dan Prosumer) atau Sunset Scene (Untuk Kamera Saku)
Untuk
memperoleh eksposur yang tepat, gunakan mode metering spot jika anda
memiliki kamera SLR dan prosumer, atau gunakan mode scene sunset/
sunrise jika anda menggunakan kamera saku pemula. Untuk pengukuran
menggunakan spot meter, arahkan titik fokus ke area sekitar matahari
(jangan tepat di matahari – nya lalu lakukan metering dengan memencet
separuh shutter, lalu kunci eksposur anda. Untuk kamera saku (dengan
mode scene), tinggal arahkan dan jepret. Pahami mode pengoperasian kamera digital.
Jangan Berhenti Ketika Sunset Lewat
Saat
memotret sunset, jangan kemasi kamera anda hanya karena matahari sudah
melewati garis horison. Bertahanlah sebentar lagi, karena cahaya sesaat
setelah sunset adalah salah satu cahaya paling indah yang dikeluarkan
alam. Begitu juga dengan sunrise, jangan datang terlalu mepet dengan
waktu matahari terbit. Cahaya sesaat sebelum sunrise adalah salah satu
yang paling indah
Berdoalah Agar Alam Berpihak Pada Anda
Anda
sudah jauh – jauh datang ke pantai terpencil (atau gunung), menyiapkan
alarm untuk bangun jam 4 pagi dan sudah menata semua peralatan agar siap
memotret, namun tiba – tiba hujan tiba. Ya apadaya, memotret di alam
terbuka memang membutuhkan keberuntungan dan kesabaran, kenapa
kesabaran? karena anda bisa mencoba lagi esok hari
by : http://99photographybali.blogspot.com/search/label/TIPS%20MEMOTRET%20SUNSET%20DAN%20SUNRISE
Subscribe to:
Comments (Atom)















