Mulai saat ini blog 99 Photogrphy akan lebih berwarna dengan hadirnya tulisan-tulisan dari orang yang tidak asing buat kita semua, Mas Tantyo Bangun. Beliau yang pernah menjabat sebagai Editor In Chief Majalah National Geographic Indonesia akan berbagi tentang dunia fotografi berdasarkan pengalaman beliau selama ini.
Berikut tulisan pertama dari mas Tantyo tentang menemukan preferensi fotografi. Selamat menikmati
Di
tengah kehadiran teknologi informasi digital, kita menghadapi “content
explosion”, mulai dari teks, foto, audio hingga video membanjiri
relung-relung kehidupan kita. Sebagai gambaran, di situs berbagi
fotografi online Flickr, tiap hari ada foto membanjiri situs itu (ada
yang menyebut 4.000 foto/ menit hingga 3 juta-5 juta foto/ hari). Belum
lagi di Facebook dan situs-situs lain. Di Youtube, tiap menit rata-rata
24 jam video yang diupload (jika frame rate video secara umum 30 frame/
detik itu sama dengan 3,7 milyar lebih still frame/ hari di upload).
Tentu
ada yang bependapat, apa pengaruhnya bagi kita untuk belajar fotografi?
Banyak sekali. Yang terutama, dengan begitu mudahnya orang memotret,
terkadang justru membuat mereka “tersesat secara visual”. Para peminat
fotografi tidak menemukan jalan setapak yang jelas menuntun ke arah
pembelajaran yang benar tentang fotografi.
Jika
kita mengamati forum-forum berbagi pendapat, perdebatan yang muncul
seolah menunjukkan semua pendapat benar asal disertai dengan tehnik
argumen yang baik. Demikian pula mengenai gambar yang baik. Terkadang
pendapat yang satu menunjukkan genre foto ini baik, lalu ada pula yang
menyebutkan foto seperti itu yang sedang tren.
Pada
akhirnya, kita harus kembali pada pegangan bahwa fotografi adalah
selera pribadi. Jika kita ingin memulai proses pembelajaran, langkah
pertama adalah mengetahui selera dan kesukaan kita akan fotografi.
Bagian mana, bentuk seperti apa, mood seperti apa, hingga
subyek seperti apa yang menarik kita. Bagi hal-hal seperti itulah layak
kita curahkan perhatian untuk mendalaminya.
Banyak
yang bertanya, mengapa tidak berbicara tehnik memotret dahulu? Buat
saya, di era digital ini tehnik menjadi nomer dua. Nomer satu adalah
visi. Tehnologi fotografi digital di masa kini sudah sangat memanjakan
penggunanya. Ibaratnya, memotret dengan mata terpejam pun pasti jadi
. Kurva pembelajarannya menjadi berbeda sama sekali di banding era fotografi analog.
Saya
beruntung masih mengalami proses memotret secara profesional dengan
media film negatif dan transparansi (slides), sehingga merasa sangat
dimudahkan dengan teknologi fotografi digital masa kini. Bagi mereka
yang tidak mengalami itu, tentu tidak terlalu mensyukurinya. Tapi
percayalah, dengan perkembangan teknologi, tehnik foto bisa dipelajari
sambil jalan.
Kembali
ke visi pribadi, bagaimana menemukannya? Salah satu cara yang paling
sering saya sarankan ke beberapa rekan adalah mempertajamnya dengan
menggunakan preferensi visual. Kumpulkan foto-foto favorit, bisa dari
mana saja: majalah, koran, flickr, internet secara umum. Jangan terlalu
banyak, dan jangan terlalu sedikit. Sekitar 50 hingga 100 foto mungkin
ideal.
Kumpulkan
foto-foto yang benar-benar disukai. Setelah itu bentangkan dalam
tampilan thumbnails yang agak besar (bisa menggunakan Picasa atau yang sejenisnya) dan review secara keseluruhan. Pelajari foto-foto itu dan temukan benang merahnya. Apakah mempunyai kesamaan subyek? Apakah karena kecemerlangan warnanya? Sudut pengambilan? Atau karena pesan atau makna dari foto itu sendiri.
Anda
sendiri yang harus mencari dan menemukan. Bagaimana cara untuk
melakukan seleksi, penajaman dan bisa menangkap benang merah preferensi
fotografi atau visual? Kita akan bahas dalam posting berikutnya.
Catatan: artikel ini juga bisa ditemukan di blog pribadi Tantyo Bangun:http://tantyobangun.tumblr.comby : http://99photographybali.blogspot.com/search/label/TENTANG%20FOTOGRAFI
0 comments:
Post a Comment